Religiusta

Archive for the ‘Gramatika Bahasa Arab’ Category

Waspada dengan Minal Aidin wal-Faizin!

In Common Mistakes, Gramatika Bahasa Arab on September 8, 2010 at 7:44 am
Mungkin pertanyaan ini sedikit mengganggu: Manakah diantara kalimat-kalimat di bawah ini yang benar?
 
A.       Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir-bathin
B.       Mohon maaf lahir-bathin, minal ‘aidin wal faizin
C.       Semoga kita dimaafkan minal ‘aidin wal faizin
D.       Semoga kita minal ‘aidin wal faizin
E.        Semua benar

Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari ‘aada=kembali), sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata ‘Aidin dan Faizin. Darimana sih mereka? 

‘Aidin itu isim fa’il (pelaku) dari ‘aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses “pemukulan” (masdar), juga ada “yang memukul” (anda pelakunya). Kalau kamu “pulang” (kata kerja), berarti kamu “yang pulang” (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa’il. 
Kalau si Aidin, darimana?
‘Aidin atau ‘Aidun itu bentuk jamak (plural) dari ‘aid, yang artinya “yang kembali” (isim fa’il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah “kembali kepada fitrah” setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.
  • ‘aada = ia telah kembali (fi’il madhi).
  • Ya’uudu = ia tengah kembali (fi’il mudhori)
  • ‘audat = kembali (kata dasar)
  • ‘ud = kembali kau! (fi’il amr/kata perintah)
  • ‘aid = ia yang kembali (isim fa’il).

Kalau si Faizin?
Si Faizin juga sama. Dia isim fa’il dari faaza (past tense) yang artinya “sang pemenang”. Urutannya seperti ini:

Faaza = ia [telah] menang (past tense)Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)
Fauzan = menang (kata dasar).
Fuz = menanglah! (fi’il amr/kata perintah)
Fa’iz = yang menang.


‘Aid (yang kembali) dan Fa’iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi ‘Aidun dan Fa’izun. Karena didahului “Min” huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi “Aidin” dan “Faizin”. Sehingga lengkapnya “Min Al ‘Aidin wa Al Faizin”. Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis dengan “Minal Aidin wal Faizin”. 
Lalu mengapa harus diawali dengan “min” atau minal?
“Min” artinya “dari”. Sebagaimana kita ketahui, kata “min” (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya ‘dari’ zuhur hingga ashar. Atau ‘dari’ Cengkareng sampe Cimone.
Selain berarti “dari”, Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan:
Ba’id wa bayyin wabtadi fil amkinah # Bi MIN wa qad ta’ti li bad’il azminah
Artinya: Maknailah dengan “sebagian”, kata penjelas dan 
permulaan tempat dengan MIN. Tapi kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu.
Dari penjelasan Ibnu Malik di atas, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata “sebagian” (lit-tab’idh). Jadi secara harfiyah, minal ‘aidin wal-faizin artinya: BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG.
Nah, pusing kan?  
Tunggu dulu. Sabar, napa. Kalimat di atas adalah kalimat doa. Baik dalam Al-Quran dan Hadis banyak kalimat-kalimat seperti itu yang menunjukkan doa kepada yang bersangkutan. Kita sering menambahi julukan kepada orang yang sudah wafat dengan tambahan “almarhum” yang artinya “yang dirahmati” (terserah orang tersebut rajin sholat atau gak pernah sama sekali). Sebab, itu hanya doa dan pengharapan “semoga ia dirahmati oleh Allah, diberikan kasih sayang-Nya di alam barzakh hingga hari Kiamat”. 
Akan halnya dengan minal ‘aidin wal-faizin, ini juga doa: “Semoga anda termasuk (bagian dari) orang-orang yang kembali kepada fitrah kesucian dan termasuk (bagian dari) orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. Amin.
Duh indahnya Islam. Sama orang yang nggak puasa saja, sempet-sempetnya kita doain yang bener.
Kesimpulannya? Ya simpulkan saja sendiri. Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan Mohon maaf lahir dan bathin. Ucapkan kalimat a, boleh. Memakai kalimat b, silakan saja. Tapi sekali lagi, mohon maaf lahir bathin itu bukan arti minal aidin. Dan yang penting lagi: jangan memilih c, karena minal aidin tidak pernah bisa memaafkan orang. Tapi pilihan saya adalah d, ini yang paling shahih. 
Akhirnya, semoga kita minal ‘aidin wal faizin. Amin!
# Taufik Munir

Common Mistake: Selamat Hari Raya Ied

In Common Mistakes, Gramatika Bahasa Arab on September 8, 2010 at 7:05 am
  Pilihlah salah satu kalimat yang menurut Anda benar:
A. Selamat Hari Raya Iedul Fitri
B. Selamat Hari Raya Ied
c. Selamat Hari Raya Fitri
D. Pilih b dan c saja
E. Semua benar

Idul Fitri atau edul Fithri adalah sebuah kalimat berbahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu “Ied” (hari raya) dan Fithri (fitrah, atau suci). “Ied” lahir dari sebuah kata kerja ‘aada (past tense), ya’uudu (present tense), dan ‘audat (atau ‘audah, sebagai kata dasar) yang artinya “kembali”. Orang-orang yang sering mengulang-ulang kembali perbuatan atau perilaku yang sama sering disebut menjadi ‘adat, alias “tradisi”. Dalam kamus “Mukthar Al-Shohhah” karya monumental Muhammad bin Abu Bakar Al Rozi, kosa kata ini masuk dalam urutan huruf ‘ain. Saat Penulis melihat, kata ‘aada-ya’uudu-‘audat di atas menginduk pada nenek moyangnya yaitu ‘a-wa-da, yang terdiri dari ‘Ain, Wau dan Dal, alias tiga huruf doang. Kalau fi’il terdiri dari tiga huruf doang dalam literatur morfologi Arab disebut dengan “Fi’il Tsulatsi Mujarrod“. Fi’il artinya kata kerja, tsulatsi artinya tiga, Mujarrod artinya doang. Sedangkan arti “doang” di sini maksudnya adalah “terhindar dari segala (godaan) tambahan”. 
Permasalahannya,  orang Arab itu alergi menjumpai huruf Wau di tengah-tengah kata, terlebih lagi ketiga-tiganya beraksi dengan memasang harakat fathah. Bayangkan, masa sih baca ‘a-wa-da! Huruf Wau, menurut para pakar bahasa Arab, adalah virus berbahaya yang mengancam eksistensi kelezatan “morfen” (bersuara). Wau mempunyai gank bernama Alif dan Ya. Saking takutnya orang Arab menggunakan tiga huruf ini dengan harakat yang diucapkan beruntun (harakah mutawaliyah), mereka menamakannya Al-Ahruf Al-‘illatiyah (huruf-huruf berpenyakit). Karena itu para pakar bahasa bermusyawarah bagaimana mengatasi sulitnya menjinakkan huruf Wau ini. Akhirnya mereka mufakat untuk melenyapkan Wau. Lalu alif yang menggantikan posisi Wau. Tapi, ya karena alif diklaim punya penyakit, akhirnya dia dimatikan saja, tidak berharkat. Maka jadilah ‘aada (pada fi’il madhi), bukan ‘aawada lagi! Anehnya pada fi’il mudhori dan masdar, huruf Wau dikembalikan lagi ke tempatnya, menjadi “ya’uwdu” (fi’il mudhori), “awdatan” (masdar). Tak apalah, biar pun mengandung penyakit, agar misi keindahan efek suara berlangsung sukses, huruf-huruf itu harus menemani harkat yang sesuai dengan fungsinya masing-masing:
  • Kalau sebelumnya fathah harus ada Alif, biar baca A-nya lebih panjang: “aaaa”.
  • Kalau sebelumnya dhommah, harus ada Wau, biar baca U-nya lebih panjang: “uuu”.
  • Kalau sebelumnya kasrah, harus ada Ya, biar baca i-nya lebih panjang: “iii”.
  • Beres.
Di atas disinggung bahwa “Fi’il Tsulatsi Mujarrod” adalah fi’il yang terdiri dari tiga huruf doang. Arti “doang” yang dimaksud “terhindar dari segala (godaan) tambahan”.
Hanya saja Fi’il Tsulatsi Mujarrod kadangkala tak pernah kuat godaan. Karena, biasanya, dia terus saja bermetamorfosa menjadi kata kerja tambahan yang dalam ilmu shorof disebut “Fi’il Tsulatsi Mazid“. Mazid di sini maksudnya, ya, tambahan. Penambahannya cuma satu, yaitu: tasydid di tengah kata. Karena si Alif tak pernah bisa menerima tasydid (penekanan), akhirnya -lagi-lagi- alif tersebut harus ditukar dengan huruf lain. Yang beruntung menggantikannya adalah temannya sendiri, yaitu: Ya. Maka jadilah AY-YA-DA. Prosesnya dimulai dari ‘ayyada (fi’il madhi mazid), yu’ayyidu (fiil mudhori) kemudian ta’yiid (masdar), lalu ta’yidah, lalu ti’yaad, dan akhirnya ‘ied (semuanya masdar).
Contoh sederhana dalam bahasa Arab:
Yu’ayyidu Al-Indunisiyyun Iedal Fithri
(Masyarakat Indonesia tengah merayakan Idul Fitri).
Sampai di sini tidak ada permasalahan. Sebab “Ied”, dengan segala derivasinya seperti yang sudah dipaparkan di atas, adalah hari raya, hari yang bersejarah, atau nostalgia, seolah hari-hari tersebut berulang kembali pada hari ini. Karenanya, ia dinamakan “Ied”. Momentum akhir Ramadhan umat Islam mengucapkan “Ied Mubarak” (Happy Ied) atau “Selamat Ied Al-Fithri“. Agar lebih akrab dan mudah di lidah orang melayu, kita biasa mengucapkan “Idul Fitri“, sehingga kalau tiba hari raya Lebaran masyarakat kita berbondong-bondong mengucapkan “Selamat hari raya Iedul Fithri” atau “Selamat hari raya Idul Fitri“. Berbeda kalau ada diantara teman atau kerabat kita merayakan Idul Milad (hari kelahiran), Idul Istiqlal (hari kemerdekaan), Idul Zafaf (hari perkawinan), tak satupun diantara kita mengucapkan kata-kata “selamat Idul Milad ya?”. Seolah hanya Idul Fitri dan Idul Adha saja yang sah menyandang predikat “Idul”.
Dan, kadang kita salah dalam menggunakan kalimat. Kita terbiasa mengucapkan “selamat hari raya Idul Fitri”. Bukankah Idul itu maknanya hari raya? Iya, kan? Lantas, mengapa harus diucapkan berulang-ulang?
Jangan sampai ada mang Jaja anda sebut “Pak Mang Jaja”, ada Gus Dur anda panggil “Pak Gus Dur”, kepada Cak Nun anda bilang “Pak Cak Nun”. Cukup Gus Dur saja, Cak Nun saja, “Selamat Idul Fitri” saja atau “Selamat Hari Raya Fitri” saja. Tidak sulit, yang penting mengena.
Memang, kesalahan seperti ini tak menjadi soal. Kita hanya mencoba semaksimal mungkin menghindari penggunaan kalimat yang berlebihan dan pemborosan kata, disamping menghindari kemurkaan JS Badudu. So, selamat Idul Fitri!
# Taufik Munir

Romadoni…. bukan Romadona!

In Gramatika Bahasa Arab on August 3, 2010 at 8:01 pm
Lima tahun lalu catatan sederhana ini telah diposting di blog lama saya (http://religiusta.multiply.com). Di saat bersamaan saya sempatkan memposting dalam diskusi maya  dan tanggapannya sungguh luar biasa. Karena ide yang berbeda dari mainstream masyarakat kita dalam hal berniat, saudara-saudara kita rame-rame memposting ulang artikel ini. atau  bahkan me-repost dalam blognya masing-masing. Diantara mereka bahkan sampai lupa untuk menyertakan sumber aslinya. Inilah artikel yang ecek-ecek itu:
Tentang Romadhoni, yang bukan Romadhona
oleh: Taufik Munir



Setelah sholat tarawih, atau sehabis sahur banyak diantara kita membaca  

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَان هذِهِ السَّنَة ِللهِ تعالى
sebagian membacanya begini: 

“NAWAITU SHOUMA GHODIN ‘AN ADAA’I FARDHI SYAHRI RAMADHAANA HAZIHIS SANATI LILLAHI TA’ALA”.
Artinya jelas, yaitu: “ya Allah aku niat puasa esok hari untuk melaksanakan puasa wajib bulan Ramadhan pada tahun ini, karena Allah ta’ala”.
 
Apakah ada masalah? Tidak ada. Yang menjadi masalah adalah Nahwu atau tatabahasa yang kita pakai. Mengapa banyak orang membaca “Ramadhana“, padahal jelas-jelas RAMADHANA adalah mudhof ilaih (yang ditumpangi). Mudhof ilaih adalah kata yang ditumpangi oleh kata sebelumnya yaitu SYAHRI. Setiap mudhoif ilaih (yang ditumpangi) jelas harus jar (yang ditandai dengan kasrah).
Jadi di sini sangat jelas niat itu harus dirubah lafaznya menjadi: RAMADHANI.
 
“Nawaitu Shouma Ghodin ‘An Adaa’i Fardhi Syahri RAMADHAANI Hazihis Sanati Lillahi Ta’ala”.

Memang ada yang beralasan bahwa RAMADHANI dibaca RAMADHANA karena RAMADHANI termasuk isim ghair munsharif (kata benda yang tidak menerima tanwin). Mengapa dia menjadi isim ghair munsharif sehingga tidak bisa menerima tanwin? Karena dia alami dan ziyadah alif-nun (kata benda dan mendapat tambahan dua huruf yaitu alif dan nun).

Saya kira alasan itu tidak kuat, karena Ramadhani tadi di-idhofatkan pula pada lafaz sesudahnya, yaitu HAZIHIS SANATI. Karena di sini sudah tidak ada faktor (illat) yang mengharuskan dibaca fathah, maka alasan itupun gugur. Artinya, lafaz itu sudah tidak lagi musti dibaca fathah ketika diidofatkan. Jadi, yang benar adalah RAMADHANI.

Tapi gak apa-apa apatis fatalistis. Sebodo amat, mau Ramadhana kek, Ramadhani kek, yang penting bukan Maradhona, Madonna, apalagi Maradhoni. :p

# Taufik Munir