Religiusta

Archive for July, 2010|Monthly archive page

Tangis Pipiet Senja

In Refleksi, Untuk Direnungkan on July 9, 2010 at 5:17 pm

Aku harus bersikap demikian. Sebab terlalu riskan, terlalu menghebohkan, dan malah hanya akan menyusahkan semuanya saja bila melibatkan keluargaku. Butet akan menangis dan takkan mau beranjak dari sisiku, berarti dia tak bisa sekolah, ikut nelangsa. Haekal juga akan meninggalkan kuliahnya, pekerjaannya, dan mungkin terpaksa mengabaikan istrinya. Hanya untuk mengurusku?
Suatu kali pernah kejadian seperti begini. Haekal malah melibatkan istrinya, Seli dan orang tuanya. Seli dan ayahnya sibuk membawakan segala keperluan opname, malam-malam datang ke UGD. Sudah menyita perhatian, tenaga dan pikiran, mereka pun menawarkan sejumlah uang untuk membantuku.

Aduuuh, aku jadi sangat malu diri!
Tidak, biarlah begini saja, kesahku menelan segala pilu di hati. Tapi manakala kepiluan itu sudah mencapai ubun-ubun, hingga aku takut menjadi munafik dan menyumpah-serapahi segalanya yang kurasai sebagai beban deritaku… Kliik!

“Mbak Retno, mohon doanya, doanya, doanya,” erangku melalui es-em-es kepada murobiyahku tersayang.

Ya Robb, betapa hamba begini daif!

Dalam sekejap balasan es-em-es bernada menyemangati, doa-doa dari saudari-saudariku di liqoh pun berhamburan masuk melalui ponselku. Mbak Retno memberikan satu-dua ayat penyemangat, mengingatkan kita tentang kesabaran, ketawakalan dan istiqomah. Mbak Ifat menawarkan bantuan. Mbak Dewi, Mbak Sari, Mbak Melia, Mbak… semuanya saja, oh, mereka sama mendoakanku!

Bahkan Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia tiap beberapa jam menanyai kondisiku. Sesungguhnya mereka menanyai keberadaanku, tetapi aku tidak mengungkapkannya. Yang kuminta hanyalah doa, doa, doa… dan doa!

Sepanjang malam itu aku memang merasa ditemani, diberi semangat dari berbagai pelosok dunia. Satu es-em-es yang kulayangkan kepada satu orang, begitu cepat menyebar… Keajaiban era globalisasi!

“Titaq nangis membayangkan mbakku sayang terbaring sendirian. Duh, kalau saja mampu, Taq pasti terbang menemani Teteh,” Muttaqwiati, penulis produktif dari Brebes, dan salah satu daiyah yang sering kujadikan tumpahan curhatku.

“Kami doakan Teteh senantiasa tabah, diberi kekuatan oleh Allah Swt,” Mukhlis Rais, Taufik Munir dan Saiful Bahri dari Kairo.

“Teteh lagi ditransfusi sendirian, ya? Saya hanya bisa melayangkan doa, ya Teteh sayang,” Yudith Fabiola di Singapura.
“Kami percaya, Teteh akan sanggup bangkit, sebab Teteh seorang yang tegar!” Nindya di Negeri Sakura.
“Tabah dan tawakal, ya teteh sayang,” Yayuk, Novianti dan Sisca dari Bengkulu.
Aku tahu, mata hatiku masih bisa menatap warna pelangi, langit jingga yang meliputi batinku, jiwaku… Menerobos kungkungan ruang serba steril ini!

Kekuatan itu, di sana, berhasil kugapai kembali!
Alhamdulillah, terima kasih, ya Robb…
Ternyata begitu banyak orang yang memperhatikan, menyayangi dan mendoakan diri yang lemah ini. Aku tak pernah sendiri!

Saat-saat itulah aku punya kesempatan untuk merehatkan tubuh, sementara darah menetes melalui selang transfusi. Aku berusaha untuk tidak memikirkan apapun lagi selain diriku sendiri. Doa, zikrullah, hanya itu yang bisa membuatku kembali bangkit dan bersemangat.

Dan memang inilah hak itu!
Tubuh ini, badan ini… dia pun punya hak. Semua bisa menuntut haknya, tetapi kita memang harus memilah-milah mana yang harus diprioritaskan, ditunda atau bahkan ditolak.

Ketika keesokan paginya slang transfusi telah dilepas, dokter memperbolehkanku pulang, aku tidak langsung mencari kendaraan. Mampir di mushola rumah sakit, tak jauh dari kamar jenazah. Kudirikan sholat dhuha, dan lama aku tepekur di ruang yang hening itu.

Ada suatu rasa, suatu kepasrahan yang berbanding lurus dengan semangat baru, ghirah dan tekad baru. Namun, kutahu itu berbaur pula dengan demam, meriang yang meruyak sebagai reaksi darah asing bergolak dalam tubuhku. Tidak, aku tak boleh membiarkannya melemahkan diriku kembali!

Ponselku berbunyi, kulirik nomernya dari Butet.
“Mamaaa…! Masih di Cimahi, ya?” serunya terdengar riang.
“Butet lagi di mana?”
“Di sekolah atuh… Mama kapan pulangnya?”
“Eeee… ini juga mo pulang kok.”
“Emang ada apa sih mendadak ke Cimahi? Oma sakit, ya?”
“Eee…, nggak, Oma sehat-sehat saja. Sudah, ya, Mama mo pulang nih! Butet minta dibeliin apa?”
“Gak usah deh, Mama pulang selamat aja… Mmmuuah!”

Aku tercenung. Orang di rumah mengiraku pergi ke Cimahi. Masih mujur, tak ada yang menelepon langsung ke Cimahi.

Maafkan Mama sudah dusta, Butet. Mama tak mau kalian heboh gara-gara penyakit Mama.
Penyakit abadi yang Tuhan berikan ini, thallassaemia ini…
Ternyata telah begitu banyak melimpahiku warna pelangi, langit jingga di hatiku. Kepenulisan, profesi, saudara-saudara, teman, karya, kreativitas, kebahagiaan, kepedihan, perjuangan, dukacita dan… banyak hal!

Aku selalu berharap penyakitku takkan dijadikan alasan suamiku untuk berpoligami. Aku telah mempersembahkan dua orang anak yang sehat, enerjik, kreatif dan pintar-pintar.

Dan aku telah membuktikan kepada dunia; seandainya tidak thallassaemia kemungkinan sekali aku malah takkan pernah menjadi seorang penulis!

Menulis ternyata juga merupakan terapi yang sangat, sangat… pas!
Inilah hidupku yang dianugerahkan Tuhan kepadaku. Kusebut ini sebagai lautan pelangiku, langit jingga, meskipun itu hanya dalam hatiku. Aku masih ingin menulis, menulis, menulis hingga ajal menjemputku suatu hari nanti…

Sumber: http://pipietsenja.multiply.com/journal?&=&page_start=200

Advertisements

Dari Isra Sosial hingga Mi’raj Spiritual

In Isra Mi'raj on July 6, 2010 at 6:34 pm

DI PENGHUJUNG tahun keempat kerasulan Muhammad SAW, jumlah umat Islam sedikit demi sedikit mulai bertambah, sementara eskalasi kebencian kaum musyrikin Mekkah semakin menjadi-jadi. Masing-masing kelompok bersikeras dengan sikapnya. Kepongahan kaum musyrikin sudah melampaui ambang batas, mereka menyiksa tokoh-tokoh Islam yang memiliki kedudukan penting. Seorang bapak menyiksa anak, ibu memusuhi putera sendiri, para “tuan” menyiksa budaknya. Bahkan mereka tak segan-segan menyiksa Rasul yang mulia. Rupanya kaum pendurhaka itu tahu bahwa melukai Rasulullah taruhannya sangat besar. Tak ayal, akhirnya para sahabat yang menjadi taruhan: mereka disiksa siang-malam tiada henti. Paman Nabi, Abu Thalib, —yang mempunyai kedudukan terhormat di suku Quraisy saat itu– berusaha melerai.

Penyiksaan itu terus berlanjut. Di awal tahun kelima kenabian, penyiksaan mencapai klimaksnya. Tak tahan menderita siksa dan ancaman, sebagian sahabat meminta izin kepada Rasulullah untuk pergi ke luar Mekkah. Wahyu segera turun, menyebutkan bahwa bumi masih terhampar luas untuk disinggahi. Firman Tuhan itu bahkan menyuruh mereka bersabar atas segala cobaan hidup: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS Azzumar: 10).

Rasulullah merenung sejenak. Tampaknya Rasulullah saw sadar bahwa kerajaan Habasyah saat itu tidak diganggu tangan-tangan jahil. Maka Rasulullah saw mengarahkan sahabat yang hendak hijrah untuk pergi ke Etiophia. Saat itu jumlah mereka yang hijrah hanya enam belas orang, dua belas laki-laki dan empat orang perempuan yang dikomandani langsung oleh Utsman bin Affan ra dan isterinya, Raqiyyah binti Rasulullah saw. “Mereka (Ustman dan Raqiyah) adalah ‘rumah’ pertama hijrah fii sabilillah, setelah Ibrahim dan Luth alaihimassalam”, kata Rasulullah. (Zaadul Ma’ad: 1/24).


Yang menarik, para pentolan yang memiliki semangat hijrah pada saat itu ternyata orang-orang yang memiliki power secara politis di masyarakat. Bisa dilihat misalnya hampir seluruh kaum imigran itu adalah dari suku Quraisy, selain Abdullah Ibnu Mas’ud ra. Kita bisa merenungkan apa faktor yang menjadi penyebab mereka terdorong berhijrah sebelum para sahabat lain melakukan hal yang sama?
Wallahu a’lam. Namun yang pasti para sahabat ketika itu mempunyai obsesi yang sama, yaitu menutupi semua kekurangan yang dapat mencederai kesempurnaan “tour” yang penuh berkah tersebut. Seandainya para pelaku hijrah (kaum muhajirin) itu dipilih hanya orang yang berdaya lemah dalam konsolidasi, sosialisasi dan beradaptasi dengan keturunan Quraisy, sedangkan pihak lawan —kaum musyrikin Mekkah— lebih unggul dari mereka, sesuatu yang mengerikan pasti terjadi: mereka akan digempur habis-habisan oleh kaum Musyrikin di tengah perjalanan ke Etiophia. Bayangkan, tidak ada seorang anggota keluargapun yang mencegah nabi dan sahabat hengkang dari tanah yang dicintainya menuju suatu jarak yang sangat jauh, tak ada ikatan emosional apapun yang merajut simpul-simpul ukhuwah mereka untuk menjadi tameng atas darah saudaranya sendiri.


Tapi itu tidak terjadi, dan orang-orang pilihan Rasulullah saja yang akhirnya berimigrasi ke Ethiopia.
Panglima muhajirin adalah tulang punggung kontruksi sosial kaum Quraisy. Karena itu, kaum musyrikin itu tak mungkin sanggup memerangi mereka sebelum para sahabat menginjakkan kaki di Ethiopia. Di sinilah mukjizat itu terjadi: para sahabat memilih Rajab -bulan yang diagungkan kaum musyrikin untuk berperang menghadapi kaum Muslimin- demi kenyamanan perjalanan hijrah itu sendiri. Karenanya tidak ada perang meletus, tak ada darah yang dihalalkan pada bulan tersebut.
Mereka mengorbankan kenikmatan dunia dan sesuap nasi karena keimanan di dasar kalbu meluapkan hati menjadi cahaya yang memancar penuh benderang, mengusap kalbu hingga mensucikan dari segala aspek kebendaan duniawi sebagai manifestasi cinta dan wujud pengagungan terhadap-Nya. Tak ada rasa takut, kecewa, gundah atau gulana selain mengikuti garis-garis ridha dan menjauhi kemurkaan-Nya.


Demikian itu adalah sunnatullah yang tak bisa ditawar-tawar atau ditukar dengan apapun. Allah mengingatkan tentang sesuatu kaum yang akan memporandakan pondasi iman kaum Muslimin, namun pertolongan Allah tak akan pernah menyalahi kontinyuitas keimanan kaum Muslimin. Allah swt berfirman:
Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami, atau kamu kembali kepada agama kami”.
Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: “Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu orang-orang yang takut kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku”
. (QS. Ibrahim:13-14).



Dengan ketundukan mutlak, para sahabat ra. ‘merespon’ perintah Allah swt dan rasul-Nya, tidak mengenal kata menyerah untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, sekalipun kondisi sangat tidak memungkinkan. Jika mereka sekarang berada di saat seperti sekarang ini, dimana umat manusia nyaris kehilangan suri tauladan para pembesar, merekalah sebenarnya yang layak menjadi pemimpin atau mungkin mahaguru kemanusiaan di dunia saat ini.
Pada bulan ini —pada tahun kesepuluh kenabian—, terjadi peristiwa besar perjalanan Isra Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, serta Mi’raj ke langit ketujuh dalam cahaya Qudus. Dalam “Hayatu Muhammad”, Muhammad Husein Haekal menukil karya Dermenghem ketika ia merekam peristiwa agung tersebut dengan kalimat-kalimatnya yang indah:
“Pada tengah malam yang sunyi dan hening, burung-burung malampun diam membisu, binatang-binatang buas sudah berdiam diri, gemercik air dan siulan angin juga sudah tak terdengar lagi, ketika itu Muhammad terbangun oleh suara yang memanggilnya: “Hai orang yang sedang tidur, bangunlah!” Dan bila ia bangun, di hadapannya sudah berdiri Malaikat Jibril dengan wajah yang putih berseri dan berkilauan seperti salju, melepaskan rambutnya yang pirang terurai, dengan mengenakan pakaian berumbaikan mutiara dan emas. Dan dari sekelilingnya sayap-sayap yang beraneka warna bergeleparan. Tangannya memegang seekor hewan yang ajaib, yaitu buraq yang bersayap seperti sayap garuda. Hewan itu membungkuk di hadapan Rasul, dan Rasulpun naik.
Maka meluncurlah buraq itu seperti anak panah membubung di atas pegunungan Mekah, di atas pasir-pasir sahara menuju arah ke utara. Dalam perjalanan itu ia ditemani oleh malaikat. Lalu berhenti di gunung Sinai di tempat Tuhan berbicara dengan Musa. Kemudian berhenti lagi di Bethlehem tempat Isa dilahirkan. Sesudah itu kemudian meluncur di udara. “Sementara itu ada suara-suara misterius mencoba menghentikan Nabi, orang yang begitu ikhlas menjalankan risalahnya. Ia melihat, bahwa hanya Tuhanlah yang dapat menghentikan hewan itu di mana saja dikehendaki-Nya.
Seterusnya mereka sampai ke Baitul Maqdis. Muhammad mengikatkan hewan kendaraannya itu. Di puing-puing kuil Sulaiman ia bersembahyang bersama-sama Ibrahim, Musa dan Isa. Kemudian dibawakan tangga, yang lalu dipancangkan diatas batu Ya’qub. Dengan tangga itu Muhammad cepat-cepat naik ke langit.
Langit pertama terbuat dari perak murni dengan bintang-bintang yang digantungkan dengan rantai-rantai emas. Tiap langit itu dijaga oleh malaikat, supaya jangan ada setan-setan yang bisa naik ke atas atau akan ada jin yang akan mendengarkan rahasia-rahasia langit. Di langit inilah Muhammad memberi hormat kepada Adam. Di tempat ini pula semua makhluk memuja dan memuji Tuhan. Pada keenam langit berikutnya Muhammad bertemu dengan Nuh, Harun, Musa, Ibrahim, Daud, Sulaiman, Idris, Yahya dan Isa. Juga di tempat itu ia melihat Malaikat maut Izrail, yang karena besarnya jarak antara kedua matanya adalah sejauh tujuh ribu hari perjalanan. Dan karena kekuasaanNya, maka yang berada di bawah perintahnya adalah seratus ribu kelompok. Ia sedang mencatat nama-nama mereka yang lahir dan mereka yang mati, dalam sebuah buku besar. Ia melihat juga Malaikat Airmata, yang menangis karena dosa-dosa orang, Malaikat Dendam yang berwajah tembaga yang menguasai anasir api dan sedang duduk di atas singgasana dari nyala api. Dan dilihatnya juga ada malaikat yang besar luar biasa, separo dari api dan separo lagi dari salju, dikelilingi oleh malaikat-malaikat yang merupakan kelompok yang tiada hentinya menyebut-nyebut nama Tuhan: O Tuhan, Engkau telah menyatukan salju dengan api, telah menyatukan semua hamba-Mu setia menurut ketentuan-Mu.
Langit ketujuh adalah tempat orang-orang yang adil, dengan malaikat yang lebih besar dari bumi ini seluruhnya. Ia mempunyai tujuhpuluh ribu kepala, tiap kepala tujuhpuluh ribu mulut, tiap mulut tujuhpuluh ribu lidah, tiap lidah dapat berbicara dalam tujuh puluh ribu bahasa, tiap bahasa dengan tujuhpuluh ribu dialek. Semua itu memuja dan memuji serta mengkuduskan Tuhan.
Sementara ia sedang merenungkan makhluk-makhluk ajaib itu, tiba-tiba ia membubung lagi sampai di Sidratul-Muntaha yang terletak di sebelah kanan ‘Arsy, menaungi berjuta-juta ruh malaikat. Sesudah melangkah, tidak sampai sekejap matapun ia sudah menyeberangi lautan-lautan yang begitu luas dan daerah-daerah cahaya yang terang-benderang, lalu bagian yang gelap gulita disertai berjuta-juta tabir kegelapan, api, air, udara dan angkasa. Tiap macam dipisahkan oleh jarak 500 tahun perjalanan. Ia melintasi tabir-tabir keindahan, kesempurnaan, rahasia, keagungan dan kesatuan. Dibalik itu terdapat tujuhpuluh ribu kelompok malaikat yang bersujud tidak bergerak dan tidak pula diperkenankan meninggalkan tempat.
Kemudian terasa lagi ia membubung ke atas ke tempat Yang Maha Tinggi. Terpesona sekali ia. Tiba-tiba bumi dan langit menjadi satu, hampir-hampir tak dapat lagi ia melihatnya, seolah-olah sudah hilang tertelan. Keduanya tampak hanya sebesar biji-bijian di tengah-tengah ladang yang membentang luas.
Begitu seharusnya manusia itu, di hadapan Raja semesta alam.
Kemudian lagi ia sudah berada di hadapan ‘Arsy, sudah dekat sekali. Ia sudah dapat melihat Tuhan dengan persepsinya, dan melihat segalanya yang tidak dapat dilukiskan dengan lidah, di luar jangkauan otak manusia akan dapat menangkapnya. Maha Agung Tuhan mengulurkan sebelah tanganNya di dada Muhammad dan yang sebelah lagi di bahunya. Ketika itu Nabi merasakan kesejukan di tulang punggungnya. Kemudian rasa tenang, damai, lalu fana ke dalam Diri Tuhan yang terasa membawa kenikmatan.
Sesudah berbicara… Tuhan memerintahkan hambaNya itu supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali. Begitu Muhammad kembali turun dari langit, ia bertemu dengan Musa. Musa berkata kepadanya:
Bagaimana kauharapkan pengikut-pengikutmu akan dapat melakukan salat limapuluh kali tiap hari? Sebelum engkau aku sudah punya pengalaman, sudah kucoba terhadap anak-anak Israil sejauh yang dapat kulakukan. Percayalah dan kembali kepada Tuhan, minta supaya dikurangi jumlah sembahyang itu.
Muhammadpun kembali. Jumlah sembahyang juga lalu dikurangi menjadi empatpuluh. Tetapi Musa menganggap itu masih di luar kemampuan orang. Disuruhnya lagi Nabi penggantinya itu berkali-kali kembali kepada Tuhan sehingga berakhir dengan ketentuan yang lima kali.
Sekarang Jibril membawa Nabi mengunjungi surga yang sudah disediakan sesudah hari kebangkitan, bagi mereka yang teguh iman. Kemudian Muhammad kembali dengan tangga itu ke bumi. Buraqpun dilepaskan. Lalu ia kembali dari Baitul-Maqdis ke Mekah naik hewan bersayap”. (Hayatu Muhammad – M. Husein Haikal).
Peristiwa luar biasa ini membuat bingung banyak orang, bahkan oleh para sahabat sendiri. Kaum kafir mengolok-olok, sementara beberapa sahabat ragu-ragu. Muhammad Husein Haikal menulis bahwa orang-orang Arab penduduk Mekah menanggapinya secara kasat mata. Perjalanan kafilah yang terus-menerus antara Mekah-Syam memakan waktu sebulan pergi dan sebulan pulang. Apakah mungkin Muhammad hanya satu malam saja pergi-pulang ke Mekah?! Mereka yang masih menyangsikan hal ini lalu mendatangi Abu Bakar dan keterangan yang diberikan Muhammad itu dijadikan bahan pembicaraan.
“Kalian berdusta,” kata Abu Bakar.
“Sungguh,” kata mereka. “Dia di mesjid sedang bicara dengan orang banyak.”
“Dan kalaupun itu yang dikatakannya,” kata Abu Bakar lagi, “tentu dia bicara yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku, bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu malam atau siang, aku percaya. Ini lebih lagi dari yang kamu herankan.”
Abu Bakar lalu mendatangi Nabi dan mendengarkan ia melukiskan Baitul Maqdis. Kebetulan Abu Bakar sudah pernah berkunjung ke kota itu.
Selesai Nabi melukiskan keadaan mesjidnya, Abu Bakr berkata: “Rasulullah, saya percaya.”
Sejak itu Muhammad memanggil Abu Bakar dengan “As-shiddiq” (Sang pembenar).
Ya, Abu Bakar percaya karena ada kekuatan lain yang tak bisa ditembus oleh panca-indera kita yang tak berarti apa-apa dibanding kekuatan sang Khaliq itu. Bahkan, ketika di zaman itu tak ada seorang Marconi yang telah menemukan arus listrik tertentu dari kapalnya yang telah berlabuh di Venesia. Dengan suatu kekuatan gelombang ether, arus listrik itu telah dapat menerangi kota Sydney di Australia. Begitupula sains telah membuktikan kebenaran teori telepati, transmisi suara di atas gelombang ether dengan radio, mesin transmisi faksimili dan teleprinter. Dengan teknologi modern seperti itu manusia dapat menikmati komunikasi dan informasi dari berbagai media. Bahkan, manusia dapat melakukan konferensi jarak jauh (telekonferensi) dengan kualitas audio dan gambar yang nyaris sama dengan wujud aslinya (riil) di saat yang bersamaan. Dan Abu Bakar membenarkan, 14 abad sebelum ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menyingkap fakta ilmiah dibalik peristiwa Isra-Mi’raj itu. Muhammad, Abu Bakar dan umat beriman di seluruh dunia tidak lagi menyangsikan sesuatu kekuatan yang diberikan Allah Maha Penggenggam alam mayapada kepada Nabi yang ma’shum dari dusta, Muhammad.
Nampaknya kita bisa memetik hikmah dari perjalanan spiritual Nabi tersebut, yakni tentang pencapaian segala sesuatu musti “dimulai dari titik nol menuju anak tangga yang tertinggi” (QS. 84:19), dari tangga estafeta terkecil (zero mind process) sebelum mencapai anak tangga terakhir (total action): diawali dengan syahadat yang menjadi pusat mission statement, membulatkan tekad, membangun visi, menciptakan wawasan, men-transformasi visi, serta komitmen total. Setelah itu barulah sholat yang mensimulasi kita untuk tetap khusyu (konsisten) dalam tugas, membangun pengalaman positif, serta mampu mengasah semua prinsip kehidupan kita. Kemudian tugas mulia itu diantisipasi dengan puasa sebagai kendali diri dari sikap hidup kolusi, korupsi, nepotisme dan naluri hewaniah lainnya sebagai sumber peningkatan kecakapan emosi secara fisiologis. Setelah ikrar, sholat dan media kekang yang bernama puasa itu, lalu ada zakat yang dapat membangun landasan kooperatif dan mampu menginvestasi kepercayaan, komitmen, kredibilitas, keterbukaan, empati dan kompromi. Setelah keempat itu usai kita lakukan dan sanggup menjalani semangat keberagamaan, satu fase terakhir tengah menunggu yaitu ibadah haji sebagai total action kemusliman kita. Wallahu a”lam.
 

By Taufik Munir ( http://religiusta.multiply.com/journal/item/5 )