Religiusta

Archive for January, 2009|Monthly archive page

[BM] TARIKH TASYRI’

In Uncategorized on January 30, 2009 at 6:19 am

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al-Jatsiyah: 18)

Makna Syari’ah dan Tasyri’
Kata syari’ah dalam bahasa Arab berarti “sumber air yang jernih untuk diminum.” Lalu kata ini digunakan untuk mengungkapkan al-thariqah al-mustaqimah (jalan yang lurus). Sumber air adalah tempat kehidupan dan keselamatan jiwa, begitu pula dengan jalan yang lurus yang menunjuki manusia kepada kebaikan, di dalamnya terdapat kehidupan dan kebebasan dari dahaga jiwa dan akal.
Syari’ah Islamiyah didefinisikan dengan: “apa yang telah ditetapkan Allah Taala untuk hamba-hamba-Nya berupa aqidah, ibadah, akhlaq, muamalat, dan sistem kehidupan yang mengatur hubungan mereka dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama makhluk agar terwujud kebahagiaan dunia dan akhirat.”
Sedangkan kata tasyri’ berarti: PENETAPAN ATAU PEMBERLAKUAN SYARIAT YANG BERLANGSUNG SEJAK DIUTUSNYA RASULULLAH SAW DAN BERAKHIR HINGGA WAFAT BELIAU. Namun para ulama kemudian memperluas pembahasan tarikh (sejarah) tasyri’ sehingga mencakup pula perkembangan fiqh Islami dan proses kodifikasinya serta ijtihad-ijtihad para ulama sepanjang sejarah umat Islam. Oleh karena itu pembahasan tarikh tasyri’ dimulai sejak pertama kali wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw hingga masa kini.

Urgensi Tarikh Tasyri’

  1. Melalui kajian tarikh tasyri’ kita dapat mengetahui prinsip dan tujuan syariat Islam.
  2. Melalui kajian tarikh tasyri’ kita dapat mengetahui kesempurnaan dan syumuliyah (integralitas) ajaran Islam terhadap seluruh aspek kehidupan yang tercermin dalam peradaban umat yang agung terutama di masa kejayaannya. Bahwa penerapan syariat Islam berarti perhatian dan kepedulian negara dan masyarakat terhadap pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, akhlaq, aqidah, hubungan sosial, sangsi hukum, dan aspek-aspek lainnya. Dengan demikian adalah keliru jika ada persepsi bahwa syariat Islam hanyalah berisi hukum pidana seperti qishash, rajam, dan sejenisnya.
  3. Melalui kajian tarikh tasyri’ kita dapat menghargai usaha dan jasa para ulama, mulai dari para sahabat Rasulullah saw hingga para imam dan murid-murid mereka dalam mengisi khazanah ilmu dan peradaban kaum muslimin. Semua itu mereka ambil dari cahaya kenabian yang dibawa oleh Rasulullah saw.
  4. Melalui kajian tarikh tasyri’ akan tumbuh dalam diri kita kebanggaan terhadap Syariat Islam sekaligus optimisme akan kembalinya siyadah al-syari’ah (kepemimpinan syariat) dalam kehidupan umat di masa depan.

Syariat Islam dan Hukum Wadh’i (Hukum Positif)
Antara syariat Islam yang bersumber dari Allah Taala dengan hukum dan undang-undang buatan manusia sebenarnya tak dapat dibandingkan, mengingat perbedaan antara Al-Khaliq yang Maha Sempurna dengan makhluk yang maha lemah dan maha kurang. Keraguan terhadap kelaikan dan keadilan syariat Islam berarti keraguan terhadap sifat Allah Taala yang Maha Sempurna, Maha Tahu dan Maha Bijaksana, atau berarti keinginan kuat untuk membebaskan hawa nafsu dari aturan-aturan Ilahi. Dan kedua hal ini berarti kekufuran.
Al-Syahid ‘Abdul Qadir ‘Audah dalam bukunya “Al-Tasyri’ Al-Jina-i fi Al-Islam” (Hukum Pidana dalam Islam) menyebutkan beberapa keunggulan syariat Islam atas hukum dan undang-undang buatan manusia, di antaranya:

1. Hukum wadh’i tidak mengandung keadilan yang hakiki karena dibuat oleh manusia yang memiliki hawa nafsu serta kepentingan. Jiwa Manusia tunduk dengan perasaan dan kecenderungan tertentu sehingga produk hukum yang dihasilkan pun tidak mungkin merealisasikan keadilan hakiki. Sedangkan syariat Islam bersumber dari Allah Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya sehingga keadilannya adalah sebuah kepastian.
Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Luqman: 12).
Tuhanku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. (Thaha: 52).
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-An’am: 115).
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. (Al-Maidah: 49).

2. Manusia tidak tahu pasti apa yang akan terjadi di masa depan, apa lagi masa depan yang jauh. Pengetahuan manusia hanya didasari pengalaman dan keadaan yang melingkupinya saat ini. Oleh karena itu, hukum dan peraturan yang dibuatnya hanya mempertimbangkan ‘kekinian’ dan ‘kesinian’ serta pasti perlu diubah dan diperbaiki di lain tempat dan waktu. Berbeda dengan syariat yang bersumber dari Dzat yang Maha Mengetahui masa lalu, kini dan masa depan, pasti mampu menjawab tantangan setiap tempat dan zaman.
Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu tampakkan atau rahasiakan)?! Padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? (Al-Mulk: 14).

3. Hukum Wadh’i memiliki prinsip-prinsip yang terbatas, diawali kemunculannya dari aturan keluarga, kemudian berkembang menjadi aturan suku atau kabilah dan seterusnya. Dan baru memiliki teori-teori ilmiahnya pada abad ke-19 M. Berbeda dengan syariat Islam yang sejak masa kehidupan Rasulullah saw telah menjadi undang-undang yang lengkap dan sempurna memenuhi segala kebutuhan individu, keluarga, masyarakat, negara serta hubungan internasional. Di samping itu, sejak diturunkan, Syariat Islam tidak terbatas hanya untuk kaum atau bangsa tertentu melainkan untuk semua umat manusia sepanjang zaman.
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al-Anbiya: 107)
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al-Maidah: 3).

4. Hukum Wadh’i hanya mengatur hubungan sesama manusia tanpa memiliki konsep aqidah tauhid yang menghubungkan semua itu dengan Allah Taala. Sedangkan syariat Islam dilandasi oleh tauhid dan keimanan kepada Allah dan hari akhir yang menjadi motivasi utama ketaatan seorang hamba kepada syariat Allah Taala. Oleh karenanya hukum wadh’i kehilangan kekuasaannya atas jiwa manusia di mana ia hanya mengandalkan sangsi hukum semata dan ini memberi kesempatan kepada para penjahat untuk mencari celah kelemahan hukum dan menggunakan berbagai tipu muslihat agar lepas dari jeratan hukum. Sedangkan syariat Islam selalu memperhatikan pembinaan aqidah umat sebelum, ketika, dan setelah penegakan hukum-hukumnya, sehingga sanksi hukum hanyalah salah satu faktor untuk membuat masyarakat menjadi baik dan tertib.
Motivasi spiritual, berupa pengawasan Allah Taala, rasa harap akan ridha-Nya dan takut akan murka-Nya menjadi faktor utama ketaatan warga negara terhadap hukum.Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (An-Nisa: 93)
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ فَلاَ يَأْخُذْهَا. (البخاري ومسلم).
Dari Ummu Salamah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadukan perkara di antara kalian kepadaku, boleh jadi salah satu pihak lebih pandai berargumentasi dari pada pihak lain (sehingga aku memenangkannya). Maka siapa yang aku menangkan perkaranya karena kepandaiannya berargumentasi (padahal sebenarnya lawannya yang berhak dimenangkan), berarti aku telah memberikan kepadanya bagian dari siksa neraka, maka janganlah ia mengambilnya.” (H.R. Bukhari-Muslim).

5. Hukum wadh’i mengabaikan faktor-faktor akhlaq dan menganggap pelanggaran hukum hanya terbatas pada hal-hal yang membahayakan individu atau masyarakat secara langsung. Namun hukum wadh’i tidak memberi sangsi atas perbuatan zina, misalnya, kecuali jika ada unsur paksaan dari salah satu pihak. Hukum wadh’i tidak memberi sangsi atas peminum minuman keras kecuali jika dilakukan di depan umum dan mengancam keamanan orang lain. Hukum wadh’i tidak memberi sanksi bagi pezina karena zina adalah perbuatan keji yang merusak moral, mengganggu keutuhan rumah tangga, mengacaukan nasab keturunan, dan berpotensi menimbulkan berbagai bahaya kesehatan serta tersebarnya kerusakan moral. Hukum wadh’i tidak menghukum peminum arak karena arak dan semua yang memabukkan itu merusak akal dan tubuh, merusak akhlaq, dan menyia-nyiakan harta. Tetapi sekali lagi sangsi hukum hanya diberlakukan jika perbuatan itu dianggap membahayakan orang lain secara langsung dalam konteks fisik dan keamanan.

6. Sedangkan syariat Islam adalah syariat akhlaq yang memperhatikan kebaikan mental dan fisik masyarakat secara umum, memperhatikan kebahagiaan dunia akhirat sekaligus, sehingga Islam melarang dan menetapkan sangsi atas zina karena ia adalah perbuatan keji yang diharamkan Allah Swt dengan berbagai dampak negatifnya meskipun dilakukan suka sama suka, begitu pula dengan minum minuman yang memabukkan.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (Al-Isra: 32).

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan menegakkan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (Al-Maidah: 90-91)

Fase-fase Tarikh Tasyri’

  1. Fase Tasyri’: dari awal kenabian Muhammad saw hingga wafat beliau (11 H).
  2. Fase Perkembangan Fiqh Pertama: Masa Khulafa Rasyidin, 11-40 H.
  3. Fase Perkembangan Fiqh Kedua: Masa Sahabat Yunior atau Tabi’in Senior sampai Permulaan Abad ke-2 Hijriyah.
  4. Fase Perkembangan Fiqh Ketiga: dari Permulaan Abad ke-2 hingga Pertengahan Abad ke-4 Hijriyah.
  5. Fase Perkembangan Fiqh Keempat: dari Pertengahan Abad ke-4 hingga Jatuhnya Baghdad tahun 656 H.
  6. Fase Perkembangan Fiqh Kelima: dari Jatuhnya Baghdad hingga kini.

***

[STKIP-DU] Tafsir Al-Fatihah

In Uncategorized on January 19, 2009 at 6:11 pm

TAFSIR AL FATIHAH


“BismillahirRahmanirRahim”

(Dengan nama Allah Maha Pemurah Maha Penyayang)

Dalam al Qur’an al Karim dan juga pada awal setiap surah selain Surah al Taubah dimulakan dengan “Bismillahir Rahmanir Rahim”. Ini memberikan satu panduan agar kita memulakan segala apa yang kita lakukan dengan menyebut nama Allah terlebih dahulu.

Rasulullah s.a.w bersabda yang mafhumnya:

“Setiap urusan yang baik yang tidak dimulakan dengan “Bismillahir Rahmanir Rahim”, maka tidak akan mendapat barakah” (Abu Dawud)

Perkataan “ISM” adalah suatu perkataan yang menunjukkan zat atau makna. Sedangkan lafz al Jalalah, iaitu ALLAH, adalah zat yang mesti ada, suatu nama yang pokok dan penghimpun. Adapun selain daripada itu adalah sifat sifat Allah yang berkenaan dengan perbuatan mahupun dengan perkataan, yang semua itu dinamakan Asma’ al Husna atau nama nama yang indah. Di mana setiap nama itu bererti sifat yang menunjukkan pada zat dan sifat perbuatan. Sedangkan ism al Jalalah ini menunjukkan itu semua dengan seluruh kesempurnaan dan kesucian Nya daripada segala sifat yang berlawanan dengannya. Itu sendiri menunjukkan sifat zat yang bersifat Maha Sempurna dan bersih daripada segala sifat kekurangan.

“ArRahmanir Rahim” pula adalah dua sifat Allah yang berasal daripada perkataan rahmah dengan erti yang layak bagi Allah.

Ibnul Qayim mengatakan: “Menghimpun antara Rahman dan Rahim di sini mengandungi erti yang indah sekali. “Rahman ” menunjukkan sifat dasar bagi Allah. “Rahim” pula menunjukkan hubungannya dengan yang diberi rahmat. Jadi seolah olah yang pertama itu bererti sifat, sedang yang kedua itu bererti perbuatan. Yang pertama menunjukkan, bahawa rahmah dan kasih sayang itu menjadi sifat zat Allah, sedang yang kedua menunjukkan, bahawa Dia memberi rahmat kepada makhluk Nya dengan sifat kasih sayangnya itu.

Untuk memahami erti ini, renungkan firman Allah yang mafhumnya:

“Dia adalah maha kasih sayang kepada orang orang mukmin”

“Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang dan pengasih kepada orang mereka”

Di situ tidak terdapat kata “Rahman” kepada mereka. Dengan demikian, maka kamu dapat mengetahui, bahawa “Rahman” itu bererti zat yang disifati dengan rahmah, sedang “Rahim” bererti zat yang diberi rahmat.

Selanjutnya kata ibn al gayim:

“Titik ini hampir tidak dijumpai dalam kitab mana pun.”

Tetapi Syeikh Muhammad Abduh berpendapat lain. Beliau mengatakan:

“Yang saya ketahui, bahawa sighat “Fa’Laan” menunjukkan sifat perbuatan yang mengandung erti mubalaghah (sangat) seperti “Fa’aalun” yang dalam penggunaan bahasa terpakai untuk sifat sifat mendatang seperti “Atsyan”(orang haus), “Gharthan” (orang yang Iapar), “Ghad ban” (orang yang marah)”

Sedang sighat “Fa’iilun” menunjukkan erti yang tetap, seperti akhlaq dan tabiat manusia seperti: “alim (yang mengetahui), hakim (yang bijaksana), halim (yang sabar) dan jamil (yang bagus). Sedang al Quran tidak pernah keluar daripada gaya bahasa Arab yang mengena dalam menceriterakan sifat sifat Allah ‘azza wajalla, yang sentiasa jauh daripada menyamai sifat sifat makhluk.

Jadi perkataan “Rahman” bererti menunjukkan zat yang daripadanya timbul rahmah itu dengan perbuatannya pula yang meliputi seluruh keni’matan dan kebaikan. Sedang kata “Rahim” bererti menunjukkan pangkal timbulnya rahmah dan ihsan itu, dan ini adalah sifat yang selalu ada pada Allah.

Dengan demikian satu sama lain saling berkaitan. Tidak bererti yang kedua sebagai penguat yang pertama. Maka apabila seseorang Arab mendengar sifat Allah dengan “Rahman”, dan ia mengerti bahawa secara kenyataan Dialah yang meluaskan ni’mat ni’mat itu, dia tidak boleh mempercayai bahawa Rahmah itu sifat yang mesti dan selalu ada, sekalipun terjadi dalam banyak hal. Tetapi kalau dia mendengar “Rahim” maka kepercayaannya kepada Allah menjadi sempurna menurut erti yang layak bagi Allah dan di redainya serta dia akan mengetahui, bahawa Allah mempunyai satu sifat yang disebut “Rahmah” yang daripadanya akan membuahkan satu pengaruh yang besar, kendati sifat sifat yang tersebut tidak sama dengan sifat sifat makhluk.

Sifat ini disebut, sesudah menyebut kata “Rahman”, adalah tak ubahnya dengan menyebut dalil sesudah madlulnya untuk memberikan kejelasan baginya.

Demikian kami ringkaskan daripada Tafsir al Manar.

Barangkali pendapat terakhir ini lebih mendekati kepada kaedah-kaedah dan uslub bahasa Arab.

Syeikh Muhammad Abduh dalam menjawab sementara lawan berfikirnya dan pengarahan pendapatnya ini sehingga melupakan satu aliran yang sangat lembut sekali, yang hendak kami bawakan di sini secara ringkas, seperti berikut:

“Kemungkinan untuk memperkuat dengan menyebut dua sifat itu secara bersama sama bagi tujuan meniadakan berbilang, adalah sangat jauh. Kerana antara tauhid dan erti rahmah sama sekali tidalc ada hubungannya, sedang sepanjang sejarah tidak pernah ada orang yang berpendapat. bahawa “Rahman” itu bererti ma’bud (yang disembah) dan “Rahim” pun bererti ma’bud yang lain, sehingga periu dikongkritkan, bahawa Rahman dan Rahim itu bererti satu”

Tetapi yang dikenal pengertian seperti ini ialah perkataan orangorang Kristian yang berpendirian Triniti (Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus), dengan anggapan Tiga sama dengan Satu. Kemudian Allah bermaksud menjadikan pembuka amal baik kaum muslimin yang terdiri dari tiga makna: Yang pertama “zat” sedang yang kedua dan ketiga iaitu “Dua Sifat”.

Lafz al Jalalah (Allah) adalah zat yang sama dengan penyebut Bapa menurut orang Kristian. Rahman adalah sifat perbuatan yang selalu baru yang timbul sebagai pengaruh daripada keluasan kedermawanNya. Ini seperti kata “Anak” menurut anggapan Kristian, sebab ‘rahman’ adalah basil daripada zat. Sedang kata “Rahim” menunjukkan sifat yang abadi daripada zat yang Maha Suci, yang kepadanya kembalilah perbuatan yang baru itu. Dengan anggapan timbul dan serba bare adalah seperti penyebutan Ruhul Kudus menurut anggapan Kristian dalam hubungannya antara anak dan bapa, namun mereka akan terus berusaha untuk menutupinya dengan pelbagai cara.

Kemudian al Quran mengajar kita bagaimana harus kita meletakkan Tauhid di tempat Triniti, dan kita ganti lafaz lafaz tanzih (kata yang membersihkan) yang justru lebih baik dengan lafaz lafaz tasybih (kata yang menyerupai). Dan kami mengerti erti yang dijadikan alasan untuk maksud Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus itu, adalah erti daripada Rahmah dan meluasnya ni’mat.

Di sinilah perlunya mengapa dua kata (Rahman dan Rahim) diulang dalam permulaan tiap surat dan hita disunnatkan membacanya dalam setiap melakukan amal kebajikan. ‘

Daripada beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, bahawa kebanyakan ahli tafsir mengertikan erti kata “Rahman” itu bererti pemberi ni’mat dalam bentuk barang kasar. Sedang kata “Rahim” bererti pemberi ni’mat dalam bentuk barang yang halus. Tetapi pendapat ini tidak bersandar dalil.

Atau kedua duanya mempunyai erti yang lama. Sedang kata yang kedua sebagai penguat (ta’kid) bagi yang pertama.

Ini adalah pendapat al Jalal, al Shabban dan sebahagian ahli tafsir. Tetapi pendapat ini dipandang lemah. Sebab di dalam al Quran tidak ada satu pun kata tambahan yang tidak mengandung pengertian yang dimaksud. Demikian sebagaimana yang ditegaskan oleh ibnu Jarir alTabari.

Atau salah satu sifatnya itu menunjukkan erti Rahmah yang tetap pada diri Allah. Sedang yang kedua menunjukkan berulangnya perbuatanperbuatan yang ada hubungannya dengan sifat ini. Inilah pendapat ibn al Qayim dan Syeikh Muhammad Abduh. Dan ini pula kiranya cukup dapat mententeramkan hati.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

(Segala puji bagi Allah, Tuhan bagi sekelian alum)

“ALHAMDU”, adalah segala pujian yang bagus dan indah. Pujian ini sangat bergantung kepada kadar pengenalan pemujanya kepada sifat sifat yang dipuji. Kalau pemujanya mempunyai pengetahuan yang luas dan menyeluruh, maka akan tepadah pujiannya itu. Justru itulah setup muslim berkewajipan bersungguh sungguh untuk mengkaji rahsia alum dan mengetahui seluruh daya dan keindahan yang terkandung di dalamnya. supaya dengan demikian mereka dapat mengenal dengan baik akan keagungan penciptanya. Dan dengan itu pula pujiannya itu akan tepat dan benar, sebab pujiannya itu benar benar tumbuh dari pengenalan yang hakiki dan perasaan yang tumbuh dari hati nurani serta penghormatan yang timbul dari rasio, bukan sekedar memberi atau ketaatan yang turun temurun.

Justru itu pula, pujian dan sanjungan yang tertinggi, ialah pujian dan sanjungan Allah terhadap dirinya sendiri: “Mafia Suci Engkau, Kami tidak dapat menghitung pujian atas Mu sebagaimana Engkau telah memuji sendiri pada Diri MU”.

Pujian Allah pada dirinya itu satu hat yang wajar dan mesti, kerana Dialah yang bersifat mahasempurna, yang berhak mendapat segala macam pujian, kendati ada beberapa sebab yang mempengaruhi erti pujian ini kepada jiwa hambanya, seperti halnya seorang yang lapar akan memuji ketika ia sudah kenyang, seorang haus ketika puas mendapat minum, seorang miskin ketika kaya, seorang bodoh ketika memperoleh pengetahuan dan seorang yang tersingkirkan apabila telah dikabulkan permintaannya, seperti pujian Nabi Ibrahim yang mafhumnya:

“Segala puji bagi Allah yang telah memberiku Ismail dan Ishak sesudah tuaku, kerana memang sesungguhnya Tuhanku sungguh mendengarkan pemohonan” (Ibrahim: 39)

Di sinilah letak rahsia menghimpun antara hak pujian (ALHAMDU) dan ketuhanan Allah terhadap seluruh clam ini (RABBIL ALAMIN).

“RABBIL ALAMIN” (Tuhan bagi sekelian alam)

Imam Baidawi mengatakan, “Rabbun” pada asalnya adalah kata ‘masdar’ yang bererti ‘tarbiyah’ (pendidikan), iaitu menyampaikan sesuatu secara sempurna dengan bertahap. Maka Allah disifati dengan “Rabbun” adalah untuk melebihkan (lil mubalaghah). Rabb juga disebut “Malik” (pemilik) kerana Dia melindungi dan mendidik apa yang dimilikinya.

Kata “Rabb”ini tidak boleh dipakai untuk selain Allah, kecuali dengan adanya pembatasan atau disandarkan kepada yang lain.

Sedang al Raghib berpendapat, “Rabb” itu pada asalnya bererti tarbiyah, iaitu menumbuhkan sesuatu secara bertahap hingga sempurna.

Kata “Rabb” ini tidak boleh dipergunakan secara mutlak, kecuali bagi Allah.

“‘ALAMIN” (sekelian alam)

Kata ini sebagai kata jama’ daripada “ALAM”, yang menurut sementara pendapat maksudnya ialah: manusia, berdasarkan firman Allah yang mafhumnya:

“Supaya ia (Nabi) itu menjadi pengancam bagi manusia” (Al Furqan: 1)

Sementara adaa juga yang berpendapat, meliputi semua makhluk Allah yang berilmu, seperti malaikat, manusia dan jin.

Dan ada juga yang mengatakan, setup jumlah yang berbeda dengan afradnya sebagai sifat yang mendekati berakal, seperti: ‘alam al insan (alam manusia), ‘alam al nabat (aam tumbuh tumbuhan) dan ‘alam alhayawanat (alam binatang). Tetapi untuk benda benda mati seperti batu, gunung dan sebagainya tidak dapat disebut alam. Oleh kerana itu tidak boleh disebut: ‘alam al hajar (alam batu), ‘alam al jabal (alam gunung) dan sebagainya.

Bahkan ada juga yang berpendapat, bahawa yang disebut ‘alamin iaitu semua jenis makhluk, dengan alasan firman Allah yang mafhumnya:

“Fir’aun berkata: “Siapakah Tuhan bagi alam semesta ini? ” Musa menjawab: Yaitu Tuhannya Iangit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, kalau benar benar kamu beriman.” (As Syu’ara’: 23-24)

Daripada sekian banyak pendapat, barangkali pendapat yang lebih tepat bahawa erti itu semua tidak lepas daripada karenah. Sedang yang dimaksud dengan kata “‘Alamin” di surah al Fatihah ini ialah erti yang terakhir. Sebab sesungguhnya Allah adalah zat yang mengatur seluruh makhluk ini. ‘

Sedang pengaturan Tuhan terhadap seluruh makhluk ini nampak dengan jelas dalam seluruh manifestasi dunia ini, daripada yang paling kecil hingga yang paling besar. Misalnya benda benda yang mati, yang mengatur adalah Allah, dengan hukum hukum clam Nya, yang tidak terlepas daripada satu reaksi, konstruksi, peleburan, campuran, gabungan dan penukaran.

Selanjutnya dalam keanekaragaman tumbuh tumbuhan, dalamnya terkandung pengertian tarbiyah ilahiyah dengan satu bentuk yang lebih jelas, dibandingkan dengan apa yang terkandung dalam bendabenda mati, kerana di dalamnya terdapat erti dan dasar dasar hidup. Kita ambit contoh misalnya janin tumbuh tumbuhan yang bersembunyi dalam biji bijian, sehingga apabila ia telah bertemu dengan tanah yang subur, dia akan berkembang, bergerak dan memakan bahan bahan makanan yang berada di sekitarnya, yang memang disediakan untuk itu. Maka bahan bahan makanan yang dihisap oleh janin tadi tak ubahnya dengan puting binatang. Begitulah sehingga janin ini apabila sudah tumbuh dan membesar, akarnya menghunjam di tanah dan menghisap makanannya dari tanah, kemudian bertambah menjadi susunan yang indah nampak di permukaan bumf berbentuk tumbuhtumbuhan yang akan menjadi pohon kecil, terus membesar dengan beranting, berdaun dan berbunga yang bernafas, makan dan bunting kemudian melahirkan buah buahan.

Binatang dengan seluruh macamnya, dan manusia dengan seluruh jenisnya adalah diatur oleh Allah dalam seluruh tahap tahap hayatnya, sejak dari bentuk nutfah sampai menjadi darah menggumpal, dan menginjak kepada segumpal daging, dan terus dilengkapi dengan tulang belulang sampai kepada bentuk yang sempurna. Kemudian lahir, menyusu , berkembang dan besar dengan dimudahkan jalanjalan untuk mempertahankan hidup serta penjagaan yang sempurna iaitu dengan dijaganya perlengkapan, anggota dan jalan mencari makan melalui cara cara pengetahuan dan perasaan yang bermacammacam, sehingga dengan demikian manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk dan .clapat merasakan erti kebaikan, kebenaran dan keindahan.

“ARRAHMANIRRAHIM” (Pemurah lagi Penyayang)

Tafsir al Manar mengatakan: “Kalimat ini diulang untuklmenunjukkan bahawa pengaturan Tuhan terhadap alam semesta ini bukan kerana keperluan Allah kepada mereka seperti demi mengambil manfaat atau menolak mudarat. Tetapi itu semua hanyalah semata mata menunjukkan keluasan rahmat kasih sayang Allah serta kebaikan Nya kepada makhluk Nya.

Walaupun erti “rabb” yang difahami sebagai kekuasaan dan paksaan, Allah hendak menyadarkan mereka itu dengan rahmah dan kebaikanNya supaya mereka dapat memadukan antara kepercayaan terhadap keagungan dengan kebaikan Allah. Maka disebutlah kata “RAHMAN” dengan erti yang meluaskan ni’mat serta berganti gantinya ni’mat itu yang tiada habis habisnya. Dan disusulnya dengan kata “RAHIM” yang bererti mempunyai sifat rahmah yang abadi yang tidak pernah tiada untuk selama lamanya.

Jadi seolah olah Allah hendak memperlihatkan kasih Nya kepada hamba Nya, kemudian memperlihatkan kepada mereka bahawa pengaturannya itu adalah pengaturan yang berbentuk kerana rahmah dan kebaikan Nya, supaya mereka tahu, bahawa sifat inilah (RAHMAN dan RAHIM) yang menjadi sumber seluruh sifat, sehingga dengan demikian mereka akan mahu menerima dengan rela untuk mencari keredaan Nya.

Sifat ini tidak bererti akan meniadakan keumuman rahmah dan hukum hukum Allah tentang hukuman di dunia dan akhirat bagi orang orang yang memperkosa hukum dan melanggar larangan.

Sesungguhnya Allah, sekalipun disebut “QAHHAR” (pemaksa) dilihat di segi bentuk dan realitinya, tetapi pada hakikatnya paksaan Nya itu berbentuk rahmah, kerana di dalamnya terdapat suatu pendidikan bagi manusia dan menghalang mereka daripada melanggar hukum Allah, sebab dengan pelanggarannya itu mereka akan jadi celaka. Sedang disiplin pada hukum Allah akan membawa kebahagiaan dan kesenangan mereka.

“MAALIKI YAUMIDDIN” (Yang merajai hari kemudian)

“MAALIKI” dengan dipanjangkan “mim”nya bererti memiliki, dapat dibaca “MALIKI” dengan dipendekkan “mim”nya yang ertinya ; raja. Kedua dua bacaan ini mempunyai dasar dalam ayat al Quran. Yang pertama iaitu dasar fir man Allah yang mafhumnya:

“Pada suatu hari di mana satu jiwa tidak dapat menolong jiwa lainnya, sebab semua urusan di hari itu adalah kepunyaan Allah.” (Al Infitar: l9)

Alasan bagi bacaan kedua ialah firman Allah yang mafhumnya:

“Milik siapakah kerajaan pada hari itu? ihlilik Allah yang Maha Esa dan Maha perkasa.” (Ghafir: 16)

“AL-DIN” ertinya: al hisab (perhitungan) , al mukafa’ah (kecukupan) dan al jaza’ (pembalasan). Erti terakhir inilah yang sangat munasabah bagi ayat ini.

Maka erti “Yaumiddin” iaitu hari kebangkitan yang besar untuk menerima perhitungan dan balasan amal. Seperti juga diterangkan oleh Allah dalam al Quran yang mafhumnya:

“Yaitu suatu hari yang tiap tiap jiwa akan mendapatkan di hadapannya kebaikan yang mereka lakukan dan kejahatan yang mereka lakukan; tiap tiap jiwa itu akan merasa senang kalau antara dia dan hari itu ada jarak yang jauh”. (Ali ‘Imran: 30)

Allah memperingatkan makhluknya dengan kelembutan perhitunganNya, sehingga dengan demikian manusia mahu mengikuti dan mengakui, bahawa TUHAN SEKELIAN ALAM YANG MAHA RAHMAN DAN RAHIM itu adalah raja pada hari kemudian (maaliki yaumiddin), yang kemudian Dia akan menghitung dan memberi balasan amal yang mereka kerjakan.

“IYYAKA NA’ BUDU WAIYYAKA NASTA’IN”

(Hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepada Mu kami minta tolong).

Pengertian menurut bahasa bererti taat dengan benar benar tunduk. Tetapi pentafsiran ini belum dapat mencapai maksud ibadah. Ibadah tidak sama dengan pengabdian. Menurut Syeikh Muhammad Abduh dalam tafsirnya mengenai erti ibadah ialah secara ringkasnya: “Seorang yang mencintai orang lain akan berlebih Lebihan dalam menyanjung kekasihnya sehingga sanggup berkorban untuk memenuhi kehendak kekasihnya”. Ini belum dinamakan ibadah dengan erti yang sebenarnya.

Pengertian ibadah yang sebenarnya ialah ketaatan yang paling tinggi yang tumbuh dari hati kerana merasa kebesaran yang diabdi, yakin akan kekuasaan Nya.

Justru itu ibadah ini mempunyai beberapa bentuk yang disyariatkan demi menyedarkan manusia akan kekuasaan Tuhan yang Maha Tinggi sebagai jiwa dan rahsia ibadah.

Setiap bentuk ibadah yang benar mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk keperibadian pelakunya serta membersihkan jiwanya yang berpunca daripada ketaatan dan pengagungan.

“ISTI’ANAH” atau “nasta’in” ertinya ialah: mencari bantuan untuk mengatasi kelemahannya dan bantuan untuk apa yang tidak dapat dilaksanakan atau disempurnakan.

Permintaan bantuan ini dalam persoalan duniawi yang menjadi kekuasaan manusia dan perbuatan manusia, boleh dilakukan antara manusia itu sendiri. Bahkan cara ini termasuk cara bertaqarrub kepada Allah sebagaimana hadis Nabi s.a.w yang mafhumnya:

“Bahawa sesungguhnya Allah akan memberi pertolongan kepada hamba Nya, selama hamba tersebut mahu menolong saudaranya”

Memberi dan meminta pertolongan kepada manusia seperti tersebut di atas adalah satu cara yang dibenarkan, demi melaksanakan dan menyempurnakan perbuatan perbuatannya.

Adapun meminta pertolongan (isti’anah) dalam hal hal yang khusus buat Allah dan yang tidak dibenarkan minta bantuan kepada selain Allah, adalah hal hal yang di luar kemampuan manusia, seperti minta sembuh daripada penyakit setelah berubat, meminta kemenangan untuk melawan musuh sesudah mengadakan persiapan dan mengerahkan seluruh daya kemampuan, dan seperti meminta Allah daripada segala macam gangguan dan bala yang memang perkara tersebut semata mata berada di tangan Allah yang tidak mungkin dielakkan kecuali oleh zat yang mengatur urusan bumi dan langit ini.

Ibadah dan isti’anah dan pengertiannya seperti ini, hanya untuk dan kepada Allah semata. Justru itu didahulukannya dhamir “IYYAKA” (hanya kepada Mu), untuk menunjukkan kekhususan, seperti yang dikatakan oleh ahli bahasa.

Setiap manifestasi yang menunjukkan ibadah secara syar’i, yang nampak ataupun yang tidak nampak, tidak boleh tidak kecuali untuk Allah semata mata, seperti: salat, ruku’, sujud, nadzar, qurban, sumpah, takut, mengharap, tawakkal, cinta, senang, merendah diri dan seterusnya.

Begitu juga bentuk bentuk permintaan pertolongan yang secara khusus oleh syara’ ditentukan hanya kepada Allah, tidak boleh dilakukan kepada selain Allah, seperti: do’a, minta hujan, minta panjang umur, minta kekuatan, minta dicapainya seluruh keperluan.

Dengan demikian, maka selamatlah agama seseorang mu’min, iman dan kepercayaannya akan menjadi lebih sempurna. Dan dia pun akan selamat daripada noda noda syirik serta dapat memadukan antara tauhid uluhiyah (mengakui keesaan Tuhan) dan tauhid rububiyah (mengakui keesaan pengaturan).

Ayat ini termasuk kata yang lengkap (jawami’ul kalim), sebab dalam kalimat ini telah disyariatkan kesimpulan seluruh risalah dan hak serta kurnia Allah kepada makhluk Nya yang telah dibawa oleh para rasul.

Tidak ada persoalan pertama yang lebih banyak dibawa oleh Agama selain mengenal Allah, dalam bentuk “HANYA KEPADAMULAH KAMI MENYEMBAH DAN HANYA KEPADAMULAH KAMI MINTA PERTO LO NGAN. ”

Di antara kehalusan kata “ISTI’ANAH” (minta pertolongan). Kata ini dapat menimbulkan ghairah beramal dan mencari jalan untuk beramal, sebab “isti’anah” itu sendiri ertinya minta pertolongan kepada Allah.

‘Umar bin al Khattab r.a. pernah berkata:’

“Janganlah kamu mencari rezki sambit duduk dengan cukup mengatakan ‘Ya Allah berilah aku rezki!’ kerana kamu tahu, bahawa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak”

Dalam uacapan ini tersimpul suatu penghargaan bagi manusia, iaitu dengan menjadikan “amal” sebagai dasar pokok untuk mencapai seluruh keperluannya.

Sementara ahli tafsir ada yang berpendapat, bahawa meminta pertolongan itu terbatas pada meminta taufiq kepada Allah dengan mengerjakan ibadah, berdasar sabda Nabi s.a.w kepada Mu’adh r.a. yang mafhumnya:

“Demi Allah saya sangat menyukaimu, makaku wasiatkan kepadamu kiranya kamu tidak akan meninggatkan berdo’a setiap selesai sembahyang, dengan mengucapkan: “Ya Allah! Ya Tuhan kami! Berilah aku pertolongan untuk mengingat Kamu dan bersyukur kepada Mu serta beribadah kepadaMu dengan baik!”

“IHDINAS SIRATAL MUSTAQIM” (Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus)

“Sirat” artinya: jalan; “Mustaqim” ertinya: lurus. Ayat ini merupakan kalimat yang lengkap (jawami’ul kalim). Sebab setiap manusia pada hakikatnya perlu pada pimpinan ke jalan yang lures, baik dalam perkataannya, perbuatannya, fikirannya maupun kehendaknya.

Jalan lurus inilah Agama uyang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. tanpa tambahan, pengurangan, dan perubahan seperti firman Allah yang mafhumnya:

“KatakanIah! Inilah jaIanku yang ku seru kalian kepada Allah dengan terang; begituIah aku dan orang orang yang mengikuti aku; Maha Suci Allah dan aku tidak tergolong orang orang yang menyekutukan Allah.” (Yusuf: 108)

“Dan sesungguhnya ini adalah jalan Ku yang Lurus; oleh kerana itu ikutilah dia dan jangan kamu mengikuti macam macam jalan, maka jalan jaIan itu akan memisahkan kamu daripada jalan Allah.” (Al An’am: 153)

“Dan sesungguhnya engkau sungguh akan memimpin ke jaIan yang lurus, iaitu jalan Allah yang memiliki semua apa yang di Langit dan apa yang di bumi; Ingat! Kepada ALIahlah seluruh urusan ini akan dikembalikan.” (As-Syura: 52-53)

Ada empat cara yang diberikan Allah kepada manusia untuk mendapat pimpinan, yang masing masing akan naik setingkat demi setingkat sesuai dengan tingkatan perkembangan dan persediaannya.

Pertama: melalui perasaan dan ilham yang’telah menjadi tabi’at dan naluri manusia yang dibawanya sejak manusia itu lahir ke dunia seperti seorang bayi yang lapar. Apabila diberikan susu ibunya terns dihisapnya dengan menggunakan alat nalurinya yang tidak pernah difikir dan dihayati sebelumnya.

Kedua: Melalui indra dan alat perasa yang tumbuh bersama pertumbuhan manusia sendiri, seperti pendengaran, penglihatan, perasaan, pencium dan peraba.

Ketiga: Melalui seluruh kekuatan akalnya seperti berfikir, mengh’afal, mengingat dan ini semua adalah asas adanya hukum dan taklif bagi manusia.

Keempat: Melalui al Din dan pimpinan Allah serta risalah yang dibawa oleh para rasul

Kadang kadang manusia salah dalam mempergunakannya, tidak tahu memanfaatkannya atau akalnya lemah oleh kerana sesuatu sebab. Oleh kerana itu Allah mensyari’atkan agar kita memohon hidayah kepadaNya ke jalan yang lurus sehingga daya indra kita tidak sempat dan akal kita tidak lemah dan tidak salah dalam memahami al Din dan kebenaran.

Namun untuk benar benar sampai ke siratal mustaqim (jalan yang lures) dalam seluruh ucapan dan perbuatan adalah mustahil kerana setiap perkataan dan perbuatan itu ada batasnya.

“Siratalladhina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladdallin”

(Jalan orang orang yang telah Engkau beri ni’mat, yang tidak dimurka dan tidak sesat).

Dalam ayat ini ada tiga bentuk manusia:

1. Orang orang yang mendapat ni’mat

2. Orang orang yang dimurka

3. Orang orang yang sesat

Ahli tafsir berpendapat bahawa maksud golongan pertama ialah: orang orang mu’min daripada kalangan umat Muhammad s.a.w mahupun umat sebelumnya.

Golongan kedua ialah orang orang Yahudi yang telah menyimpang daripada tuntutan Taurat.

Golongan ketiga ialah orang orang Kristian yang tidak mahu berpegang pada ajaran Injil yang sebenarnya.

Maksud “maghduubi ‘alaihim” ialah mereka yang berbuat bid’ah dan maksud “dallin” ialah orang orang yang sesat daripada sunnah.

Maksud yang lebih menyeluruh bagi “mereka yang beroleh ni’mat ” ialah orang orang yang mengetahui kebenaran dan beroleh pimpinan Allah sehingga mereka itu mahu jalan yang benar. Maksud “orang-orang yang dimurkai” ialah orang orang yang mengetahui kebenaran tetapi menyimpang daripada agama yang dianuti. Sikap ini menjadi bukti kemarahan Allah atas mereka. Maksud “orang-orang yang sesat” itu adalah orang orang yang lalai daripada kebenaran dan sesat atau mereka yang mencari kebenaran tetapi tidak mahu mengikuti kebenaran itu daripada agama apa pun yang mereka peluk di mana pun mereka berada.

Maka Allah memimpin kita untuk selalu meminta kepada Nya pimpinan untuk mengikuti jejak golongan pertama, iaitu orang orang yang beroleh ni’mat daripada Allah dan menghindar daripada golongan kedua yang rosak itu.

“Amin” (Ya Allah! Kabulkanlah!)

Kalimat ini bukan bahagian daripada al Fatihah, dengan ijma’ dan maksudnya ialah: Ya Tuhan kami! Kabulkanlah kami!

“Amin” ini dibaca sesudah kita membaca al Fatihah dalam sembahyang dan juga di luar sembahyang, adalah sunat, sebagaimana hadith yang diriwayatkan oleh Wail bin Hujr yang mafhumnya: “Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. membaca “ghairil maghdubi ‘alaihim walad dallin”, kemudian ia membaca amin, dengan suara yang panjang.” (Ahmad, Abu Daud, Tarmidhi)

Dan juga hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda yang mafhumnya:

“Apabila imam membaca amin, malca bacalah amin, kerana barangsiapa aminnya itu bersamaan dengan aminnya Malaikat, dosa dosanya yang lalu itu akan diampuninya”

Ibnu Syihab berkata: Rasulullah s.a.w juga pernah membaca amin” Jama’ah kecuali Tirmidhi tidak menyebutkan perkataan Ibnu Syihab tersebut.

Abu Hurairah juga pernah berkata yang mafhumnya:

“Rasulullah s.a.w. apabita telah membaca “ghairil maghdubu ‘alaihim waladh daLlin” ia membaca amin, sehingga orang orang di saf pertama yang berada disampingnya mendengar bacaan itu. Sehingga masjid gemwuh dengan suara amin.” (Abu Daud, Ibnu Majah)

Imam Syafi’i dan Malik dalam riwayat ahli Madinah berpendapat, bahawa amin ini hendaknya dibaca dengan kuat, baik oleh imam ataupun makmum. Abu Hanifah, sebahagian ahli Madinah dan Tabari berpendapat: tidak perlu dikuatkan bacaannya.

Membaca amin itu disunnatkan pada akhir setiap do’a. Abu Zuhair mengatakan yang mafhumnya:

“Mahukah kamu saga beritahu tentang itu? Iaitu pada suatu malam kami pernah keluar bersama Rasuiuilah s. a. w, kemudian kami datang ke tempat seorang laki laki yang tidalc berhenti henti berdo’a, Iantas Rasulullah s.a.w. mendengar)cannya, lalu berkata: Dia pasti akan dikabulkan kalau ia mahu mengalchiri. Kemudian ada seorang iai Iaki bertanya: Dengan apa ia harus mengakhiri? Nabi menjawab: Dengan “amin”, sebab kalau dia mahu mengakhiri dengan amin, nescaya dikabuIkan.” Kemudian orang bertanya )cepada Nabi itu pergi dan mendatangi laki Iaki tersebut dan berkata: Akhirilah hai fulan, dan gembiralah kamu” []